Istilah tempayan digunakan untuk menamakan bejana bulat yang biasanya terbuat dari tanah liat. Oleh masyarakat setempat dinamakan batu sada. Kuburan batu ini bentuknya silindris, terdiri dari dua bagian yakni bagian wadah tempat diletakan tulang belulang, dan bagian tutup. Bahan baku tempayan batu ini adalah jenis batuan tufa dan batu pasir. Seperti halnya sarkofagus, kuburan tempayan batu ini berfungsi sebagai kuburan sekunder (tempat penyimpanan sisa jenazah/kerangka). Tinggi tempayan batu ini berkisar antara 70 – 165 cm, diameter bawah, diameter tengah 130 cm -150 cm berkisar antara 40 – 50 cm.
Pembuatan tempayan batu secara umum tergolong halus dengan permukan yang rata. Kuburan batu bentuk tempayan ini banyak ditemukan tersebar di Pulau Samosir, seperti di Kecamatam Nainggolan, Simanindo, Onan Runggu, Palipi dan Kecamatan Pangururan. Dari sejumlah temuan tempayan batu tersebut secara umum tidak berhias, namun ada satu tempayan batu yang ditemukan di Desa Tolping, Kecamatan Simanindo, berhias antara lain berupa pola geometris bentuknya seperti embun, bentuk segitiga (tumpal), sulur-suluran dan gambar monster seperti muka binatang atau manusia. Selain itu terdapat tempayan batu yang bagian tutupnya (bagian ujung atas) bentuk kepala manusia.
Keberadaan tempayan batu ini ada yang masih berada di tempat aslinya, artinya belum berpindah dari tempat aslinya. Pada umumnya bagian wadah diletakkan di dalam tanah yang terlihat di permukaan tanah hanya bagian tutupnya seperti terdapat di Desa Buttu Raja, Banjar Tonga-Tonga, Kecamatan Nainggolan. Sebaliknya keberadaan tempayan batu ada yang sudah dipindahkan menjadi satu dengan bangunan simin/tambak modern. Menurut informasi, setelah kemerdekaan RI banyak tempayan batu yang semula berada di dalam tanah telah diangkat kembali oleh keluarganya digabungkan dengan bangunan tambak modern. Dari pengamatan yang kami lakukan, tempayan yang berada di daerah ini ada sekitar 10 buah dan kondisinya tidak terawat karena mereka menganggap hal itu tidak memiliki nilai apa-apa. Pemerintah setempat juga tampak tidak peduli dan tidak respek sama sekali terhadap benda tersebut.
Jika dalam waktu dekat tidak dilakukan upaya pelestarian, dapat dipastikan 2 atau 3 tahun lagi benda itu akan hilang dan hancur tak bersisa, serta akan menghilangkan situs atau benda sejarah.
Secara pribadi saya merasa sedih dengan keadaan peninggalan sejarah yang tak terawat dan terabaikan itu, saya tidak punya wewenang dan kuasa untuk melestarikan hal itu. Seandainya saja saya punya wewenang/otoritas maka saya akan memeliharanya dengan baik.

Istana Sisingamangaraja ini memiliki luas sekitar 100 m x 100 m, dan dalam istana tersebut terdapat tiga buah rumah yang disebut dengan rumah bolo, sopo parsaktian dan sopo bolon. Dalam lokasi tersebut terdapat juga
Disekitar istana Sisingamangaraja tepatnya disebelah kiri pintu masuk istana terdapat juga peninggalan sejarah yang bernama batu siungkap-ungkapan atau batu panungkunan boni yang konon menurut cerita dari masyarakat setempat, bahwa batu itu digunakan sebagai tempat penyembahan (mohon petunjuk) jika petani hendak turun ke sawah. Hal ini dilakukan supaya nantinya hasil panen dapat baik dan melimpah.
Peninggalan yang tidak kalah penting untuk diperhatikan ialah Pohon Hariara yang terletak di Desa Sinambela Kec. Bakti Raja. Konon katanya pohon ini adalah Tongkat dari Raja Sisingamangaraja yang ditancapkan ditanah dan sampai sekarang tumbuh subur didaerah tersebut. Pohon ini sudah berusia ratusan tahun dan sangat di hargai oleh masyarakat setempat, tetapi masyarakat setempat masih kurang memahami dan tidak memiliki pengetahuan tentang pelestarian budaya peninggalan sejarah. Hariara adalah sejenis pohon yang menyerupai pohon beringin dan pohon hariara ini banyak terdapat didaerah Pulau Samosir. Tongkat Raja Sisingamangaraja ini memiliki ukuran yang sangat besar yang memiliki tinggi kurang lebih 50 meter dan diameter batangnya kira-kira 5 meter.
Didesa Bakara Kec. Bakti Raja Kab. Humbanghasundutan ini juga terdapat peninggalan Sisingamangaraja yang disebut dengan Tombak Sulu-sulu (Goua). Keberadaan goua ini kira-kira 500 meter dari hunian masyarakat setempat dan belum dilakukan pelestarian yang maksimal. Konon menurut cerita dari masyarakat setempat Goua ini adalah tempat martonon (bertenun) dari Ibunda Raja Sisingamangaraja dan juga merupakan persembunyian Raja Sisingamangaraja agar terhindar dari pemburuan Belanda. Sampai saat ini masyarakat setempat masih menganggap tempat tersebut sebagai tempat yang keramat atau sakral karena menurut cerita masyarakat, ditempat itu masih bersemayam panglima dan ibunda dari Raja Sisingamangaraja.
Tapak kaki gajah Raja Sisingamangaraja merupakan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi yang sampai saat ini masih merupakan pertanyaan bagi masyarakat yang mengunjungi tempat tersebut. Konon menurut cerita dari masyarakat setempat, Raja Sisingamangaraja menunggangi seekor gajah dan pada titik tertentu gajah tersebut menginjak tanah yang mengakibatkan keluarnya air yang sangat besar dan air yang mengalir sangat jernih juga bersih. Sampai saat ini air tersebut dipercaya oleh masyarakat dapat membawa berkah dan mengobati berbagai macam penyakit. Oleh karena pentingnya air tersebut, masyarakat membenahi lokasi tersbut dan membuat penampungan berupa kamar mandi kecil agar para pengunjung dapat menikmati air yang berasal dari Tapak Gajah Raja Sisingamangaraja yang bersih, jernih dan sejuk.