TB. Silalahi Center
Perkembangan zaman yang semakin maju sangatlah bertentangan dengan keberadaan Museum yang notabene menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang sifatnya berlatar belakang zaman purbakala. Perkembangan zaman menuntut kita berlomba-lomba untuk membuat teknologi yang semakin canggih dan maju untuk kepentingan dan kesenangan manusia yang tentunya akan meninggalkan sejarah zaman purbakala. Dengan kesadaran yang sangat tinggi dan kecintaanya terhadap kebudayaan dan peninggalan nenek moyang yang memiliki nilai sangat tinggi maka putra daerah yang barasal dari Kabupatean Toba Samosir (bapak TB. Silalahi) mendirikan sebuah museum yang disebut dengan TB.Silalahi Center.
Bapak TB. Silalahi membuat atau mendirikan sebuah Museum dengan begitu indah dan megah yang didalamnya terdapat banyak peninggalan sejarah budaya batak dan peninggalan beliau semasa aktif di kemiliteran. Tempat ini dibangunnya untuk mengingat dan mengenang semua perjalanan hidupnya dan kecintaannya terhadap benda peninggalan orangtuanya. Lokasi TB. Silalahi Center memiliki lokasi yang sangat luas dan strategis untuk mengembangkan kebudayaan dan pariwisata di Toba Samosir. Pada lokasi ini selain terdapat gedung TB. Silalahi Center terdapat juga sebuah perkampungan batak, rumah batak, cafe, dan berbagai fasilitas lainnya. Pada perencanaan dan pengembangan berikutnya dilokasi ini akan dibangun waterboom (tempat bermain anak) dan dari lokasi ini kita juga dapat menikmati indahnya danau toba. Dengan keberadaan TB. Silalahi Center ini tentunya akan dapat meningkatkan kesadaran dan kecintaan terhadap budaya dan memiliki nilai dan kegunaan yang sangat tinggi khususnya bagi masyarakat Toba Samosir.


Toping-toping dan tangis tangis adalah jenis tarian tradisional dari suku Batak Simalungun yang dilaksanakan pada acara duka cita di kalangan keluarga Kerajaan. Toping-toping atau huda-huda ini terdiri dari 3 (tiga)m bagian, bagian pertama yaitu huda-huda yang dibuat dari kain dan memiliki paruh burung enggang yang menyerupai kepala burung enggang yang konon menurut cerita orang tua bahwa burung enggang inilah yang akan membawa roh yang telah meninggal untuk menghadap yang kuasa, bagian yang kedua adalah manusia memakai topeng yang disebut topeng dalahi dan topeng ini dipakai oleh kaum laki-laki dan wajah topeng juga menyerupai wajah laki-laki dan kemudia topeng daboru dan yang memakai topeng ini adalh perempuan karena topeng ini menyerupai wajah perempuan (daboru). Pada tanggal 06 s/d 08 Agustus 2009 tepatnya di Kota Perdagangan Pematang Siantar diadakan acara yang disebut dengan Pasta Rondang Bintang, acara ini dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Dalam acara ini digelar berbagai kegiatan seni dan budaya diantaranya berbagai jenias tari daerah Simalungun, Festival Lagu daerah, permainan tradisional (Jelengkat atau enggrang) dan Festival Toping-toping dan tangis-tangis.
Festival toping-toping dan tangis-tangis ini diadakan pada acara Pesta Rondang Bintang dengan tujuan untuk mengangkat dan mengembangkan kembali peranan toping-toping atau tangis-tangis yang biasanya dilaksanakan pada saat acara duka cita di daerah Simalungun. Pada Zaman dahulu penampilan huda-huda atau toping-toping dan tangis-tangis hanya dilaksanakan dikalangan keluarga kerajaan saja dan karena sekarang keberadaannya sudah tidak ada lagi, maka akan diaktifkan kembali dalam kehidupan sehari hari. Dari sekian lama Pesta Rondang Bintang dilaksanakan baru kali ini diadakan festival toping-toping dan tangis-tangis karena dari pengamatan dan pantauan dilapangan sudah sangat jarang dan biasanya acara ini juga dilaksanakan jika orang yang punya hajatan adalah orang yang sudah saur matua atau orang yang sudah lengkap anak, cucu dari masa tuanya.
Dengan keragaman budaya yang ada di Indonesia, tentanya kebudayaan ini sangatlah penting arti dan manfaatnya dimasa mendatang, oleh sebab itu diharapkan hendaklah kita dapat melestarikan budaya peninggalan nenek moyang kita yang diwariskan kepada kita dan anak cucu kita. Kalau ditinjau dari segi jenis tarian dan kebudayaan, tari toping-toping dan tangis-tangis ini tidak dapat kita jumpai dimanapun terkecuali di daerah Simalungun dan ini akan menjadi aset atau kekayaan budaya daerah Simalungun khususnya dan Sumatera Utara juga Indonesia pada umumnya, oleh sebab itu marilah kita menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya yang kita miliki.